Reformasi
Gereja
Reformasi
berasal dari kara re artinya kembali dan formasi artinya aturan. Reformasi
gereja adalah suatu upaya untuk mengembalikan ajara agama Nasrani sebagaimana
yang diatur atau digariskan dalam Kitab Suci Injil. Gerakan reformasi gereja
tidak timbul secara tiba-tiba. Gejalanya mulai timbul sejak abad ke-15. Pada
saat itu Paus sebagai pemimpin agama Katolik dinilai semakin lemah dan wibawanya
semakin merosot. Hal ini disebabkan oleh cara hidup para biarawan yang
kebanyakan tidak sesuai lagi dengan ajaran Kristus. Seseroang yang ingin
menjadi biarawan dilatarbelakangi oleh keinginan untuk memperoleh penghormatan,
jabatan dan kekayaan. Akibatnya penghormatan masyarakat terhadapa gereja dan
pejabat-pejabatnya merosot. Walaupun demikian, masih ada biarawan di beberapa
negara Eropa yang berkeinginan untuk hidup sesuai dengan ajaran Kristus. Namun,
usaha mereka selalu terbentur oleh keinginan duniawi yang lebih menonjol
terutama dari para pejabat gereja ditingkat atas.
Pada
zaman Paus Leo X, Gereja Saint Petrus di Roma mulai dibangun. Pembangunan
gereja itu membutuhkan biaya yang sangat besar. Oleh karena itu, Paus meminta
dana dari orang-orang Katolik di Eropa melalui uskup-uskup daerah setempat.
Sebagai imbalannya, Paus memberikan Indulgensia (Surat Pengampunan Dosa) bagi
mereka yang secara sukarela memberikan sumbangan untuk biaya pembangunan
gereja. Karena kurangnya pengetahuan, mengenai
masalah-masalah agama itu sendiri, mereka yang kebetulan memiliki banyak uang
berlomba-lomba untuk memiliki Indulgensia. Mereka berharap dengan memiliki
surat itu, dosa-dosa yang telah dibuatnya akan terampuni. Hal inilah yang
ditentang keras oleh seorang pastor asal Jerman bernama Martin Luther.
Martin
Luther adalah seorang penganut paham Humanisme yang lahir pada tahun 1483.
Mula-mula ia menyelesaikan pendidikannya di perguruan tinggi, kemudian menjadi
biarawan sambil mendalami pengetahuannya di bidang agama. Pada tahun 1507, ia
diangkat sebagai pastor di Witternberg (Jerman). Di kota ini ia memperdalam
lagi pengetahuannya sehingga memperoleh gelar doktor dalam ilmu tafsir agama (Teologi).
Martin Luther kemudian diminta menjadi salah satu staf pengajar di Universitas
Wittenberg. Sebagai serorang ahli teologi, ia menentang
penyimpangan-penyimpangan ajara Yesus yang dilakukan biarawan, bahkan oleh Paus
sebagai pemimpin agama. Pada waktu para petugas pencari dana pembangunan Gereja
Saint Petrus sampai di Wittenberg, Luther menolak memberi sumbangan. Pada
tanggal 31 oktober 1517, ia bahkan menempel 95 dalil protesnya di pintu Gereja
Wittenberg. Di antara pasal-pasal dalil protesnya itu mengenai “tidak diperlakukannya
Indulgensia” dan “penolakan terhadap Paus sebagai pemimpi gereja”. Ia
berpendapat bahwa setiap orang dengan kepercayaannya, langsung mendapat berkat
dari tuhan, tanpa melalui pernatara Paus (Pontifex Maximus). Martin Luther menerangkan
bahwa gereja sebagai tempat berkumpulnya orang-orang beriman, berarti yang
menjadi pemimpin gereja adalah Yesus dan bukan Paus. Paus hanyalah sebagai pemimpin
agama yang harus memimpin anggotanya untuk menganal lebih dalam menganai ajara
Yesus.
Dalam
waktu singkat masyarakat Eropa umumnya dan masyarakat jerman khususnya mengenal
Martin Luther sebagai pembawa ajaran agama baru. Ia juga dianggap sebagai tokoh
demokratisasi karena dengan pengetahuannya yang tinggi, ia menterjemahkan Bibel/Injil
dari bahas Yunani Kuno dan Latin ke dalam bahasa Jerman. Dengan demikian,
setiap orang dapat membaca dan memahami isinya.
Raja-raja
pada saat itu juga mulai menyadari bahwa kedudukan mereka sebagai kepala
pemerintahan tidak perlu lagi mendapat restu dan penobatan dari Paus.
Perubahan-perubahan ini mengkibatkan peranan dan wibawa Paus yang sebelumnya
sangat dijunjung tinggi segera merosot di mata masyarakat Eropa.
Oleh
karena ajaran Martin Luther itu sangat besar pengaruhnya terhadap keutuhan
agama Katolik, maka atas desakan Paus di Roma, Kaisar Charles mengundang Martin
Luther ke Reichstag di Worns ada tahun 1520. Di Worns, Matin Luther diminta
agar meninggalkan dalil-dalil yang telah dicipakannya namun ditolaknya. Sikap Martin
Luther itu, menyebabkan Paus mengutuk dan menganggapnya sebagai orang murtad.
Sejak itulah mulai dikenalnya aliran baru dalam agama Katolik yang disebut
agama Kristen Protestan.
Di
Prancis, aliran Protestan juga timbul dengan tokoh, Jean Calvin. Pada tahu
1536, ia memihak reformasi dengan menulis sebuah artikel dengan judul Institutio
Relegionis Christianie. Ajarannya dikenal dengan sebutan Calvinisme. Selain
dari kedua tokok tersbut, masih ada tokoh-tokoh Reformasi gerja lainnya, yaitu Zwingli
di Swiss dan Henry Tudor VII di Inggris.
Di
Inggris muncul agama baru yang disebut agama Anglican. Raja-raja inggris
sebelumnya memeluk agama Katolik namun, pada masa pemerintahan Raja Hendry
Tudor VIII, ia menyatakan diri keluar dari Katolik dan mendirikan agama baru
yaitu agama Anglican. Hal ini terjadi karena ia berselisih dengan Paus.
Perselisihan itu terjadi karena Paus menolak memberi izin kepada Raja Hendry Tudor
VIII untuk menceraikan permaisurinya yaitu Catherina dari arogan dan akan
menikahi Anna Bolleyn. Sebagai pemimpin agama Anglican, masyarakat inggris
dipaksa meninggalkan agama Katolik dan memeluk agam baru itu. selain agama Anglican
dan Katolik yang masih ada juga penganutnya, agama Protestan Calvin (Calvinisme)
mulai masuk juga di Inggris pada masa pemerintahan Raja Edwart VII, yang
disebut Puritan (Murni). Calvinisme ini kemudian terpecah menjadi dua aliran
yaitu Presbyterian dan Independent.
Untuk
mencegah lebih banyak lagi umat Katolik berpindah agama, maka gereja Katolik
mengadakan perbaikan-perbaikan. Perbaikan itu diantara lain seleksi ketat bagi
calon biarawan dan memecat biarawan yang melakukan pelanggaran terhadap
peraturan yang telah digariskan. Dengan adanya perbaikan itu agama Katolik
dapat bertahan. Salah seorang yang berjasa dalam upaya perbaikan agama katolik
adalah Ignatus De Lloyola dari Spanyol.
Pada
masa-masa berikutnya agama Katolik disebarkan ke berbagai negara termasuk Indonesia.
Penyebaran itu dilajkukan oleh para misionaris antara lain Franciscus Zaverius,
Mateo Ricci dan lain-lain. Selain agama Katolik yang masuk di Indonesia melalui
para misionaris Spanyol dan Portugis, agama Protestan akhirnya masuk juga melalui
para Zending dari negeri Belanda, setelah kota Lisabon dinyatakan tertutup bagi
para pedagang Belanda. Tertutupnya kota Lisabon bagi para pedagang Belanda
mendorong mereka mencari jalan kedunia timur (Indonesia). Pada tahun 1596,
untuk pertama kalinya pelaut-pelaut Belanda tiba di Pelabuhan Banten, dipimpin
oleh Cornelis De Houtman dan De Keyzer. Pada masa-masa berikutnya terjadi
perebutan kekuasaan antar Belanda, Portugis, dan Spanyol di Maluku. Persaingan
dan peperangan yang terjadi di antara negara-negara Eropa itu di akhiri dengan
kemenangan Belanda.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar