Sabtu, 07 November 2015

Peristiwa-peristiwa penting di Eropa dan Pengaruhnya terhadap Kehidupan Bangsa Indonesia (Part 1)

Reformasi Gereja

                Reformasi berasal dari kara re artinya kembali dan formasi artinya aturan. Reformasi gereja adalah suatu upaya untuk mengembalikan ajara agama Nasrani sebagaimana yang diatur atau digariskan dalam Kitab Suci Injil. Gerakan reformasi gereja tidak timbul secara tiba-tiba. Gejalanya mulai timbul sejak abad ke-15. Pada saat itu Paus sebagai pemimpin agama Katolik dinilai semakin lemah dan wibawanya semakin merosot. Hal ini disebabkan oleh cara hidup para biarawan yang kebanyakan tidak sesuai lagi dengan ajaran Kristus. Seseroang yang ingin menjadi biarawan dilatarbelakangi oleh keinginan untuk memperoleh penghormatan, jabatan dan kekayaan. Akibatnya penghormatan masyarakat terhadapa gereja dan pejabat-pejabatnya merosot. Walaupun demikian, masih ada biarawan di beberapa negara Eropa yang berkeinginan untuk hidup sesuai dengan ajaran Kristus. Namun, usaha mereka selalu terbentur oleh keinginan duniawi yang lebih menonjol terutama dari para pejabat gereja ditingkat atas.

                Pada zaman Paus Leo X, Gereja Saint Petrus di Roma mulai dibangun. Pembangunan gereja itu membutuhkan biaya yang sangat besar. Oleh karena itu, Paus meminta dana dari orang-orang Katolik di Eropa melalui uskup-uskup daerah setempat. Sebagai imbalannya, Paus memberikan Indulgensia (Surat Pengampunan Dosa) bagi mereka yang secara sukarela memberikan sumbangan untuk biaya pembangunan gereja.  Karena kurangnya pengetahuan, mengenai masalah-masalah agama itu sendiri, mereka yang kebetulan memiliki banyak uang berlomba-lomba untuk memiliki Indulgensia. Mereka berharap dengan memiliki surat itu, dosa-dosa yang telah dibuatnya akan terampuni. Hal inilah yang ditentang keras oleh seorang pastor asal Jerman bernama Martin Luther.

                Martin Luther adalah seorang penganut paham Humanisme yang lahir pada tahun 1483. Mula-mula ia menyelesaikan pendidikannya di perguruan tinggi, kemudian menjadi biarawan sambil mendalami pengetahuannya di bidang agama. Pada tahun 1507, ia diangkat sebagai pastor di Witternberg (Jerman). Di kota ini ia memperdalam lagi pengetahuannya sehingga memperoleh gelar doktor dalam ilmu tafsir agama (Teologi). Martin Luther kemudian diminta menjadi salah satu staf pengajar di Universitas Wittenberg. Sebagai serorang ahli teologi, ia menentang penyimpangan-penyimpangan ajara Yesus yang dilakukan biarawan, bahkan oleh Paus sebagai pemimpin agama. Pada waktu para petugas pencari dana pembangunan Gereja Saint Petrus sampai di Wittenberg, Luther menolak memberi sumbangan. Pada tanggal 31 oktober 1517, ia bahkan menempel 95 dalil protesnya di pintu Gereja Wittenberg. Di antara pasal-pasal dalil protesnya itu mengenai “tidak diperlakukannya Indulgensia” dan “penolakan terhadap Paus sebagai pemimpi gereja”. Ia berpendapat bahwa setiap orang dengan kepercayaannya, langsung mendapat berkat dari tuhan, tanpa melalui pernatara Paus (Pontifex Maximus). Martin Luther menerangkan bahwa gereja sebagai tempat berkumpulnya orang-orang beriman, berarti yang menjadi pemimpin gereja adalah Yesus dan bukan Paus. Paus hanyalah sebagai pemimpin agama yang harus memimpin anggotanya untuk menganal lebih dalam menganai ajara Yesus.

                Dalam waktu singkat masyarakat Eropa umumnya dan masyarakat jerman khususnya mengenal Martin Luther sebagai pembawa ajaran agama baru. Ia juga dianggap sebagai tokoh demokratisasi karena dengan pengetahuannya yang tinggi, ia menterjemahkan Bibel/Injil dari bahas Yunani Kuno dan Latin ke dalam bahasa Jerman. Dengan demikian, setiap orang dapat membaca dan memahami isinya.

                Raja-raja pada saat itu juga mulai menyadari bahwa kedudukan mereka sebagai kepala pemerintahan tidak perlu lagi mendapat restu dan penobatan dari Paus. Perubahan-perubahan ini mengkibatkan peranan dan wibawa Paus yang sebelumnya sangat dijunjung tinggi segera merosot di mata masyarakat Eropa.

                Oleh karena ajaran Martin Luther itu sangat besar pengaruhnya terhadap keutuhan agama Katolik, maka atas desakan Paus di Roma, Kaisar Charles mengundang Martin Luther ke Reichstag di Worns ada tahun 1520. Di Worns, Matin Luther diminta agar meninggalkan dalil-dalil yang telah dicipakannya namun ditolaknya. Sikap Martin Luther itu, menyebabkan Paus mengutuk dan menganggapnya sebagai orang murtad. Sejak itulah mulai dikenalnya aliran baru dalam agama Katolik yang disebut agama Kristen Protestan.

                Di Prancis, aliran Protestan juga timbul dengan tokoh, Jean Calvin. Pada tahu 1536, ia memihak reformasi dengan menulis sebuah artikel dengan judul Institutio Relegionis Christianie. Ajarannya dikenal dengan sebutan Calvinisme. Selain dari kedua tokok tersbut, masih ada tokoh-tokoh Reformasi gerja lainnya, yaitu Zwingli di Swiss dan Henry Tudor VII di Inggris.

                Di Inggris muncul agama baru yang disebut agama Anglican. Raja-raja inggris sebelumnya memeluk agama Katolik namun, pada masa pemerintahan Raja Hendry Tudor VIII, ia menyatakan diri keluar dari Katolik dan mendirikan agama baru yaitu agama Anglican. Hal ini terjadi karena ia berselisih dengan Paus. Perselisihan itu terjadi karena Paus menolak memberi izin kepada Raja Hendry Tudor VIII untuk menceraikan permaisurinya yaitu Catherina dari arogan dan akan menikahi Anna Bolleyn. Sebagai pemimpin agama Anglican, masyarakat inggris dipaksa meninggalkan agama Katolik dan memeluk agam baru itu. selain agama Anglican dan Katolik yang masih ada juga penganutnya, agama Protestan Calvin (Calvinisme) mulai masuk juga di Inggris pada masa pemerintahan Raja Edwart VII, yang disebut Puritan (Murni). Calvinisme ini kemudian terpecah menjadi dua aliran yaitu Presbyterian dan Independent.

                Untuk mencegah lebih banyak lagi umat Katolik berpindah agama, maka gereja Katolik mengadakan perbaikan-perbaikan. Perbaikan itu diantara lain seleksi ketat bagi calon biarawan dan memecat biarawan yang melakukan pelanggaran terhadap peraturan yang telah digariskan. Dengan adanya perbaikan itu agama Katolik dapat bertahan. Salah seorang yang berjasa dalam upaya perbaikan agama katolik adalah Ignatus De Lloyola dari Spanyol.


                Pada masa-masa berikutnya agama Katolik disebarkan ke berbagai negara termasuk Indonesia. Penyebaran itu dilajkukan oleh para misionaris antara lain Franciscus Zaverius, Mateo Ricci dan lain-lain. Selain agama Katolik yang masuk di Indonesia melalui para misionaris Spanyol dan Portugis, agama Protestan akhirnya masuk juga melalui para Zending dari negeri Belanda, setelah kota Lisabon dinyatakan tertutup bagi para pedagang Belanda. Tertutupnya kota Lisabon bagi para pedagang Belanda mendorong mereka mencari jalan kedunia timur (Indonesia). Pada tahun 1596, untuk pertama kalinya pelaut-pelaut Belanda tiba di Pelabuhan Banten, dipimpin oleh Cornelis De Houtman dan De Keyzer. Pada masa-masa berikutnya terjadi perebutan kekuasaan antar Belanda, Portugis, dan Spanyol di Maluku. Persaingan dan peperangan yang terjadi di antara negara-negara Eropa itu di akhiri dengan kemenangan Belanda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar